Kemiskinan
hidup mereka, memaksa ibu dan anak ini untuk membuat sendiri kue-kue
dan menjajakannya di pasar untuk biaya hidup mereka berdua. Hidup mereka
penuh kekurangan, sehingga membuat Lie Mei tidak pernah bermanja-manja
pada ibunya, seperti anak kecil lain. Maklum dikarena keseharian mereka disibukkan dengan membuat kue dan menjajakannya sepanjang hari. Apalagi tempat tinggal mereka hanya disebuah desa kecil , sehingga hasil keuntungan dagangan kue merekapun juga sangat minim.
Di suatu ketika, pada musim dingin, saat selesai membuat kue, Siu Lan
melihat keranjang penjaja kuenya sudah rusak berat. Lalu, dia berpesan
agar anaknya Lie Mei menunggu di rumah saja, karena dia akan membeli
keranjang kue yang baru.
Tapi ketika Siu lan pulang dari membeli keranjang kue, sang ibu menemukan pintu rumah tidak terkunci dan dia tidak melihat Lie Mei dirumah. Lie Mei tidak berada di rumah seperti pesannya ketika pergi. Maka marahlah Siu Lan. Siu Lan mengutuki putrinya yang tidak menuruti kata-katanya. Putrinya
benar-benar tidak tahu diri, sudah hidup susah masih juga pergi bermain
dengan teman-temannya. Lie Mei tidak menunggu rumah seperti pesannya.
(Hem, begitu banyak kekesalan yang membutakan pikiran dan perasaan Siu Lan terhadap anaknya sa’at itu)
Lalu, Siu Lan menyusun kue kedalam keranjang sendirian, dan pergi keluar rumah untuk
menjajakannya. Dinginnya salju yang memenuhi jalan tidak menyurutkan niatnya untuk menjual kue. Bagaimana lagi, mereka harus dapat uang untuk makan. Tapi kali ini Siu Lan pergi dan tetap menggerutu, pikirannya dengan perasaannya masih kesal atas perbuatan putrinya.
menjajakannya. Dinginnya salju yang memenuhi jalan tidak menyurutkan niatnya untuk menjual kue. Bagaimana lagi, mereka harus dapat uang untuk makan. Tapi kali ini Siu Lan pergi dan tetap menggerutu, pikirannya dengan perasaannya masih kesal atas perbuatan putrinya.
Entah apa yang telah merasuki pikiran sang ibu sehingga dia ingin tetap menghukum perbuatan putri kecilnya ini. Sebagai hukuman bagi Lie Mei, putrinya, pintu rumah dikunci Siu Lan dari luar agar Lie Mei tidak bisa masuk / pulang. Putri kecil itu harus diberi pelajaran, pikirnya geram. Lie Mei sudah berani kurang ajar.
Sepulang menjajakan kue, Siu Lan menemukan Lie Mei, gadis kecil itu
tergeletak di depan pintu. Siu Lan berlari kaget dan cepat-cepat memeluk
Lie Mei yang membeku dan sudah tidak bernyawa karena kedinginan di
luar.
Siu Lan menggoncang- goncangkan tubuh kecil yang telah beku itu. Siu Lan tetap memanggil putri kecilnya, dia meneriakkan nama Lie Mei berkali-kali agar putri kecilnya itu bangun.
Tiba-tiba
jatuh sebuah bungkusan kecil dari tangan Lie Mei. Siu Lan mengambil
bungkusan kecil itu, dia membukanya. Ternyata isi dari bungkusan kecil
itu adalah sebungkus biskuit kecil yang dibungkus hanya dengan kertas
usang.
Siu
Lan sangat mengenali tulisan pada kertas usang itu adalah tulisan Lie
Mei yang masih berantakan, namun tetap masih bisa terbaca olehnya,
“Hi..hi..hi..
. mami pasti lupa. Ini hari istimewa buat mami. Aku sengaja membelikan
biskuit kecil sebagai kejutan buat mami sebentar. Mami
jangan marah karena Lie Mei tidak pamit dulu tadi, Biscuit ini untuk
hadiah mi. Uangku tidak cukup untuk membeli biskuit ukuran besar.
Hi…hi…hi.. mami selamat ulang tahun. Lie Mei sangat sayang pada mami”.
(Oh, tuhan, ternyata putri kecilnya…)
(Oh, tuhan, ternyata putri kecilnya…)
Nah, inti ceritanya adalah…
Hendaknya kita senantiasa untuk jangan
terlalu cepat menilai seseorang berdasarkan persepsi kita, karena
persepsi kita belum tentu benar adanya. Cobalah untuk mengendalikan
emosi dan marah kita, agar tidak sampai menimbulkan efek negatif.
Selalulah berpikiran positif karena sesuatu yang positif akan membuahkan
hasil yang baik. Insya Allah…
Semoga cerita tersebut memberi bermanfa’at dan inspirasi.